07 Januari 2009

Perjalanan ke Lombok


Entah sudah berapa kali aku ke Lombok, minimal ada tujuh kali. Aku selalu pergi bersama teman-temanku, baik dengan naik mobil maupun naik sepeda motor. Banyak teman-teman lain yang kaget bila aku bilang kalau aku pergi ke Lombok naik motor. Padahal perjalanan darat ke Lombok itu dekat sekali, malah tidak sejauh perjalanan darat dari Samarinda ke Balikpapan. Yang membuat jarak Lombok dan Bali itu jauh adalah laut yang memisahkan kedua pulau tersebut. Kita tidak perlu mengendarai motor di laut kan?

Perjalanan laut dari Bali ke Lombok atau sebaliknya rata-rata lima jam lamanya. Waktu yang paling cepat hanya empat jam, sedangkan waktu paling lama yang pernah kualami adalah enam jam! Lamanya perjalanan benar-benar bergantung pada cuaca yang kami hadapi. Perjalanan enam jam yang kualami tersebut dikarenakan ferry yang kami tumpangi diombang-ambing ombak yang tinggi dan angin yang berhembus kencang, di pagi buta lagi! Malam itu kami berangkat dari Padang Bai, Bali, jam 11 malam dan tiba di Lombok jam lima pagi. Saat di tengah laut aku masih sempat melempar guyon pada teman-temanku, "Tenang. Kita tidur saja. Paling-paling besok pagi kita sudah terdampar di Australia." Lumayan, guyonanku dapat mengurangi suasana tegang teman-temanku.

Setiap memasuki pelabuhan Lembar di Lombok kita akan melewati sebuah tanjung yang sangat indah yang berbentuk huruf L. Tanjung ini ditumbuhi beberapa pohon kelapa, di bawah pohon kelapa ini berdiri beberapa rumah nelayan yang sangat tenang dan nyaman. Aku bahkan pernah berangan bila suatu hari bisa mengunjungi rumah-rumah nelayan itu, tapi hingga hari ini belum kesampaian.

Setelah tiba di pelabuhan Lembar dan keluar dari area pelabuhan, kita segera akan mencium aroma udara yang khas, aroma dari kotoran kuda. Kotoran kuda itu berasal dari cidomo. Cidomo atau kadang disebut cimodok, adalah alat transportasi khas pulau Lombok yang menggunakan tenaga kuda, secara fisik kendaraan ini mirip dengan delman atau andong yang terdapat di pulau Jawa. Perbedaan utamanya adalah, alih-alih menggunakan roda kayu, cidomo menggunakan roda mobil bekas sebagai rodanya.

Dengar-dengar cidomo maupun cimodok merupakan singkatan dari cikar, dokar dan mobil. Sampai saat ini cidomo masih menjadi sarana transportasi utama di Pulau Lombok, terutama di daerah-daerah yang tidak dijangkau oleh angkutan publik dan daerah-daerah sentra ekonomi rakyat seperti pasar. Tapi sayang, penanganan kotoran kuda dari cidomo masih belum disadari dan ditangani dengan sungguh-sungguh. Tak mengherankan jika roda-roda sepeda motor atau mobil jarang bisa luput dari kotoran hewan ini.

Mudah-mudahan pemerintah daerah Lombok peka dan segera mengatur mengenai hal ini. Atau memang sudah dilakukan, maklum terakhir kali aku ke Lombok tahun 2005. Di daerah Jawa hal ini sudah lama diterapkan, yaitu setiap dokar, delman atau cikar harus memasang kantung di belakang hewan penariknya agar kotoran-kotoran hewan itu tidak langsung jatuh dan berhamburan di jalan.


Tidak ada komentar:

Disclaimer:

Kisahku Hidupku adalah kisah nyata kehidupanku. Anda dapat mengutip keseluruhan atau sebagian cerita dalam Kisahku Hidupku dengan menyebutkan sumbernya dari sini dan/atau membuat tautan (link) ke blog ini.

Foto-foto dalam blog ini keseluruhan merupakan hasil karyaku, kecuali jika dinyatakan lain. Anda dapat menggunakannya dengan menyebutkan sumbernya dari sini dan/atau membuat tautan (link) ke blog ini.

Karya-karya dalam Sebuah Pemenungan dan Humor Pilihan dianggap sebagai bahan yang dikonsumsi umum, diperoleh dari berbagai sumber seperti e-mail, milis, media cetak dan internet, sebagian besar sumbernya telah disebut. Beberapa diantaranya tidak, karena tidak diketahui sumber aslinya. Apabila Anda sebagai pemilik atau pengarang aslinya dan disertai bukti maka dengan senang hati aku akan membuat tautan (link), mencantumkan nama Anda atau menghapusnya.