19 April 2009

Perjalanan Balikpapan - Samarinda


Seperti yang sudah direncanakan, kepulanganku ke Samarinda 23 Maret kemarin tidak melewati jalan raya Balikpapan - Samarinda, atau umumnya disebut Jalan Kilo. Albert menjemputku di Bandara Sepinggan dan kami langsung menuju ke arah Pantai Manggar dan terus ke arah utara menuju ke Samarinda melalui Samboja, Senipah, Muarajawa, Sanga Sanga, Palaran, dan Samarinda Seberang. Aku ingin mengalami kembali sensasi masa lalu ketika jalan raya Samarinda - Balikpapan belum ada.

Kami mampir di Pantai manggar. Pantai Manggar kini telah dibangun dan ditata dengan rapi. Bentuk aslinya telah hilang. Tentu saja kini lebih bagus dan bersih. Karena kami tiba hari Senin yang merupakan hari kerja, maka pantai tampak sepi. Kemudian kami melanjutkan perjalanan ke arah Senipah. Desa-desa yang kami lalui begitu damai dan asri. Ingin rasanya aku tinggal di sana. Jauh dari deru dan debu layaknya di kota-kota besar. Kami terus ke utara lagi menuju ke Muarajawa. Kami berhenti sebentar di jembatan besar yang melintasi sungai yang cukup lebar ini. Panjang jembatan ini melebihi panjang Jembatan Mahakam yang ada di Samarinda. Aku mengambil beberapa foto sekitar sungai dan jembatan ini.

Kami kemudian melanjutkan perjalanan ke Sanga-sanga. Sebuah kota yang kecil tempat eksplorasi minyak Pertamina. Kami masuk ke kota Sanga Sanga dengan tujuan ingin mencari Gereja Katolik yang dulu pernah aku datangi bersama Tante Indriati di tahun 1975. Adikku, Albert, juga pernah misa di gereja itu pada tahun 1990. Aku dan Albert ingat gereja tersebut berdekatan dengan kilang minyak satu-satunya yang ada di tengah kota Sanga Sanga. Tidak sulit mencari kilang tersebut, namun setelah kami mengelilingi kilang itu kami tidak menemukan gereja tersebut. Satu-satunya gereja katolik yang ada di Sanga Sanga adalah Gereja Katolik Santo Paulus, yang dibangun tahun 1999. Menurut keterangan orang yang kebetulan kami ketemui, gereja ini merupakan pengganti gereja katolik yang dulu ada di dekat kilang minyak tersebut. Kemudian kami makan siang ayam penyet di sebuah warung yang kami temui di Sanga Sanga.

Setelah Palaran kami memasuki Samarinda Seberang. Kami sengaja melewati Masjid Shiratal Mustaqiem yang merupakan masjid tertua di Samarinda dan telah menjadi salah satu benda cagar budaya nasional. Masjid ini berdiri sejak 1901, terletak di Jalan Pangeran Bendahara, Kecamatan Samarinda Seberang. Daerah sekitar Mesjid tersebut merupakan sentra industri kain sarung Samarinda yang sangat terkenal itu. Setelah melewati Jembatan Mahakam sampailah aku ke tempat tujuanku... KOTA SAMARINDA.

Menurutku, perjalanan dari Balikpapan ke Samarinda melalui jalan sepanjang pesisir pantai ini sangatlah menarik dan menyenangkan. Jalannya lebih mendatar ketimbang jalan raya Balikpapan - Samarinda yang bergunung-gunung. Memang di beberapa tempat terdapat jalan yang rusak dan berlubang, terutama di ruas Muarajawa dan Sanga Sanga. Bila diperbaiki, maka jalan ini akan menjadi jalan alternatif yang paling menyenangkan untuk ditempuh. Walau sensasi masa lalu sudah tidak tercium lagi, tapi aku puas karena masih punya kesempatan melewati jalan ini lagi.

Tidak ada komentar:

Disclaimer:

Kisahku Hidupku adalah kisah nyata kehidupanku. Anda dapat mengutip keseluruhan atau sebagian cerita dalam Kisahku Hidupku dengan menyebutkan sumbernya dari sini dan/atau membuat tautan (link) ke blog ini.

Foto-foto dalam blog ini keseluruhan merupakan hasil karyaku, kecuali jika dinyatakan lain. Anda dapat menggunakannya dengan menyebutkan sumbernya dari sini dan/atau membuat tautan (link) ke blog ini.

Karya-karya dalam Sebuah Pemenungan dan Humor Pilihan dianggap sebagai bahan yang dikonsumsi umum, diperoleh dari berbagai sumber seperti e-mail, milis, media cetak dan internet, sebagian besar sumbernya telah disebut. Beberapa diantaranya tidak, karena tidak diketahui sumber aslinya. Apabila Anda sebagai pemilik atau pengarang aslinya dan disertai bukti maka dengan senang hati aku akan membuat tautan (link), mencantumkan nama Anda atau menghapusnya.